Transform Logo

Perjuangan Hidup Anak Petani

admin      04 Januari 2012      ARTIKEL

Penulis : Hariyani

Sore itu kami berjalan-jalan ke sebuah dusun di Desa Montong Baan Kecamatan Sikur Lombok Timur. Setelah menyusuri jalan sempit di antara kebun dan sungai tidak jauh dari jalan raya, dan melewati jembatan kecil di atas sungai, tibalah di Dusun Dasan Buwuh. Karena tempat yang akan dituju tidak terjangkau kendaraan, kami memarkir kendaraan di halaman rumah seorang warga. Kami berjalan melalui pematang sawah yang kering, hingga sampai di sebuah rumah sederhana. Seorang perempuan paruh baya tampak buru-buru mengambil sebuah tikar lusuh, kemudian digelar di tempat duduk sederhana yang terbuat dari bambu yang terletak beberapa meter di depan rumahnya. Perempuan itu adalah ibu dari samsul hadi, bocah berkaos hitam yang duduk di sebelah kanannya. Samsul, begitu ia akrab dipanggil, masih terlihat kelelahan. Sisa-sisa keringatnya tampak masih melekat di tubuhnya yang jangkung.
Rupanya samsul baru saja pulang ngelantang di oven tembakau milik pamannya. Ngelantang adalah kegiatan mengikat lembaran-lembaran daun tembakau hasil panen. Ikatan-ikatan itu kemudian digantungkan pada batang bambu yang disusun paralel, untuk kemudian dioven. Menurut ceritanya, ia mulai ikut ngelantang sejak kelas 3 SD. Kegiatan itu dilakukannya sepulang sekolah hingga maghrib. Tapi berhubung tahun ini produksi tembakau menurun, jam 4 sore pun daun-daun tembakau sudah habis diikat. Samsul tidak sendiri. Anak-anak sebayanya di dusun itu juga melakukan hal yang sama, terutama yang keadaan ekonominya pas-pasan. “Araq siq te belanje leq sekolah (Ada untuk belanja di sekolah),” ujarnya tersipu. Samsul dan teman-temannya ikut ngelantang bukan karena kesenangan semata, tapi memang karena tuntutan ekonomi. Upah ngelantang dipakainya untuk berbelanja setiap hari di sekolah. Saat musim panen tembakau biasanya ia tidak meminta uang belanja kepada orang tuanya. “Siyu lime,” katanya polos saat kami tanya berapa upah yang didapatkan dari ngelantang. Maksudnya, ia mendapatkan upah Rp 1000 setiap lima ikat daun tembakau. Dalam keadaan produksi tembakau yang menurun, Samsul hanya menyelesaikan 15-20 ikat daun tembakau, tergantung banyaknya stok. Kalau daun tembakau sedang banyak, ia mampu menyelesaikan 2 atau 3 kali jumlah itu. Upah ngelantang hanya cukup untuk belanja sehari-hari. Untuk kebutuhan sekolah lainnya dipenuhi sang ayah yang bekerja sebagai penganyam bambu milik orang lain. “Saya mendapat upah Rp 25.000 per lembar. Satu lembar saya selesaikan dalam waktu 2-3 hari,” katanya. Tidak ada pekerjaan lain, kecuali sewaktu-waktu ikut berburuh di gudang tembakau Sadhana, saat stok tembakau lumayan banyak. Samsul termasuk salah satu anak dari keluarga kurang mampu. Untuk mengganti sepatunya yang sudah rusak pun ia belum punya uang. Penghasilan ayahnya pas-pasan untuk biaya hidup sehari-hari. Sudah seminggu ini sepatunya rusak dan tidak bisa dipakai. Meski pak guru memarahinya karena tidak bersepatu, Samsul dan keluarganya hanya bisa menjawab sedang berusaha membeli sepatu.
Di desa itu tidak sedikit anak-anak sekolah memanfaatkan musim panen tembakau untuk membantu ekonomi keluarga. Mulai siang hingga sore hari, belasan anak-anak terlihat berjubel ngelantang daun tembakau yang akan dioven. Di dusun lain, Yulianti, seorang anak kelas VI SD juga melakukan hal serupa. Keadaan ekonomi keluarganya lebih parah dari Samsul. Sambil duduk di bangku bambu yang menempel dengan rumahnya Yuli menceritakan kehidupan sehari-harinya. “Ndeq araq siqte belanje lamun te ndq ngelantang (tidak untuk belanja kalau tidak ikut ngelantang),” katanya dengan lugu. Saat musim tembakau Yuli selalu menemukan dirinya mengikat lembaran daun tembakau sepulangnya dari sekolah. Di luar musim tembakau, ia ikut berburuh di sawah, mengerjakan apa saja yang sanggup dikerjakan demi membantu orangtuanya. [Anik Hariyani]

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn

Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter

MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM