Transform Logo

Desa Wisata Yang Tengah Lesu

admin      23 Agustus 2012      ARTIKEL

Penulis : L. Fauzan Hadi

Ada sebuah bangunan sederhana di pinggir jalan desa. Pintunya yang selebar setengah gawang sepak bola, itu terbuka penuh. Terlihat barang-barang terpajang rapi di rak panjang yang bersusun lima. Ruangan itu berukuran 3 x 6 meter. Di bagian dalam, ada ruangan yang lebih besar lagi, hampir dua kali ruangan bagian luar. Kedua ruangan berisi barang yang sama: berbagai jenis produk kerajinan bambu. Itulah Tereng Gading Art shop, milik H. Ahmad, koordinator pengerajin Desa Loyok Kecamatan Sikur, Lombok Timur. Setelah mengusap debu yang menempel di kursi dan meja tua di ruang bagian dalam, pria 62 tahun itu mempersilahkan kami duduk. “Ini adalah art shop tertua di desa ini,” ujarnya memulai cerita. Beberapa art shop lain berderet di pinggir jalan, satu dengan lainnya hanya puluhan langkah. Semuanya menjual produk kerajinan bambu, hanya saja ukuran bangunannya berbeda-beda.
Sejak zaman penjajahan, Loyok memang terkenal dengan tradisi kerajinan bambu. Tradisi turun-temurun itu terus berlanjut setelah Raja Karangasem tak lagi berkuasa di sana. Waktu itu Loyok masih termasuk wilayah Kotaraja Selatan. Baru pada 1961 Loyok terpisah dari Kotaraja dan menjadi desa sendiri. Melihat tradisi yang telah mengakar itu, pada 1979 Dinas Perindustrian dan Perdagangan membawa Ahmad studi banding ke Yogyakarta. Di sana, Ahmad bertemu dengan para pengerajin, berdiskusi tentang berbagai hal, dan menyaksikan ramainya pengunjung. Sepulang dari Yogyakarta, Disperindag membekalinya dengan sarana-prasarana untuk mendirikan usaha kerajinan. Berbekal perangkat keras itu, Ahmad mendirikan Tereng Gading Art shop pada tahun itu juga. Orang yang bekerja di sana terus bertambah, dari beberapa orang, perlahan menjadi puluhan orang. Awalnya art shop itu menerima permintaan dari Bali untuk upacara adat. Tak lama berselang, pada 1980, Pemerintah menetapkan Desa Loyok sebagai Desa Wisata, bersama desa-desa lain di sekitarnya. Desa-desa sekitar Loyok memang memiliki nilai wisata tersendiri yang bisa dinikmati wisatawan. Jalur dari desa wisata yang satu ke desa wisata yang lain kemudian disebut jalur I pa-riwisata. Jalur itu masuk melalui Praubanyar dan berakhir di Lenek. Infrastruktur jalan pun diperbaiki untuk mempermudah wi-satawan berkunjung. Lima tahun kemudian, 1985, kunjungan wisatawan mulai ramai. Dari jalan negara, masuk melalui Praubanyar menuju Otak Kokoq dan Tete Batu. Kedua tempat itu merupakan lokasi wisata alam karena keindahan panoramanya. Berikutnya adalah Loyok dengan produk kerajinan bambu yang kental dengan nuansa naturalnya. Kemudian Lendang Nangka yang memiliki kerajinan perak. Setelah itu jalur berlanjut ke Desa Jurit. Bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kesenian Gendang Bleq, mesti mampir di desa itu. Kemudian wisatawan akan memasuki Pringgasela yang terkenal dengan kerajinan tenunnya. Berlanjut ke arah selatan, tiba di Masbagik yang terkenal dengan gerabahnya. Dan terakhir Lenek yang terkenal dengan kesenian tradisionalnya. Kerajinan bambu Loyok memikat hati wisatawan mancanegara dan domestik. Mereka membeli souvenir tradisional produk asli Loyok. Ada tiga jenis produk asli Loyok: Gandek, Geben, dan Penarak. Itulah yang kemudian dimodifikasi menjadi berbagai macam bentuk dan ukuran sesuai kebutuhan. Penarak misalnya, pada dasarnya untuk tempat sayuran yang baru dipetik, atau untuk membawa beras, atau fungsi lain yang tak terbatas. Dalam ukuran lebih besar, berdiameter sekitar setengah meter, disebut keraro, untuk mencuci beras atau tempat nasi saat pesta kampung atau acara besar lainnya. Dalam ukuran yang lebih kecil digunakan untuk tempat buah, tempat nasi, atau lainnya. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari bulat, oval hingga persegi. “Dulu sangat ramai. Tiap hari, dari pagi hingga maghrib, turis-turis lalu lalang belanja di desa ini,” kenang bapak lima anak itu. Mereka berasal dari Belanda, Perancis, Jerman, Australia, Jepang, Korea, dan lain-lain. Minat mereka terhadap produk tradisional demikian tinggi. Art shop Ahmad yang semula hanya 1,5 x 2 meter, perlahan diperluas hingga menjadi ukurannya yang sekarang. Ramainya pengunjung kemudian diikuti menjamurnya artshop. Sebagian pengerajin yang bekerja di Tereng Gading Art shop membuat art shop sendiri. Satu per satu artshop berdiri, hingga ada 22 artshop di Desa Loyok. Ada yang menjual produk jadi, ada juga yang memproduksi sendiri, dan memenuhi permintaan art shop lain. Yang memproduksi sendiri mempekerjakan puluhan pengerajin. Maka kerajinan bambu pun menjadi penunjang utama perekonomian masyarakat desa itu. Dari hasil kerajinanlah masyarakat Desa Loyok hidup. Dari hasil kerajinanlah Ahmad naik haji pada 1994, dan istrinya pada 1996. Dari hasil kerajinan pula ia menyekolahkan 5 orang anaknya hingga perguruan tinggi. “Semasa saya SD dulu, Loyok sangat ramai. Setiap harinya, lima sampai delapan bus wisatawan berderet parkir di pinggir jalan ini,” kata Setia-ning, 26 tahun, seorang warga Desa Loyok, sambil menunjuk jalan desa berhotmix itu. Di setiap rumah di desa itu orang menganyam bambu. Turis-turis berkeliling kampung melihat langsung para pengerajin yang sedang bekerja. Masyarakat sangat sejahtera karena turis-turis tak segan-segan membayar mahal produk mereka. Memang keadaan sudah jauh berbeda sejak satu dasawarsa lalu. Pengunjung tak lagi terlihat, jumlah pengerajin pun merosot tajam. Sebutan Desa Wisata pun tak sesuai lagi dengan keadaan.

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn

Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter

MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM