Transform Logo

Inspirasi Dari Pesisir

admin      25 Agustus 2012      ARTIKEL

Penulis : Nursyamsu

Demikian salah satu ungkapan tentang betapa kaya rayanya negeri ini. Alam pesisir boleh kaya, tetapi manusia di sana bisa saja sebaliknya. Bahkan lebih sering terjadi, masyarakat pesisir identik dengan kemiskinan. Mengapa demikian? Salah satu dari banyak faktor, adalah masyarakatnya yang kurang berdaya. Untuk dapat memanfaatkan kekayaan alam pesisir, perlu cara dan alat baik berupa kail, jala dan alat tangkap. Namun, di tengah ketidakberdayaan itu, kisah sebuah keluarga nelayan memberi inspirasi. Ibu Suharni, 44 tahun, seorang warga Dusun Jambu Barat Desa Labuhan Jambu, mengisahkan pengalaman hidupnya.
“Hidup ini indah.” Demikian Ibu kelahiran Labuhan Jambu yang pernah berdiam lama di Sape Bima ini mengawali kisahnya. “Allah telah berjanji akan selalu dekat dengan orang-orang yang sabar dan pandai bersyukur,” lanjutnya dengan yakin. “Saat awal kedatangan di desa (Labuhan Jambu) ini, saya memulai hidup dengan membawa barang seadanya karena hanya itu yang kami miliki. Saya dan keluarga diberikan tumpangan rumah oleh warga yang berbaik hati saat itu. Rumah yang sangat sederhana, seperti itu (sembari menunjuk sebuah rumah panggung reot beratapkan rumbia di pinggir pantai). “Saat itu, saya dan keluarga benar-benar dalam kesulitan hidup. Bapak (suami) belum bisa melaut karena tak punya modal apa-apa. Untuk bertahan hidup, saya berusaha mencari pinjaman uang pada siapa saja. Tapi nampaknya kemiskinan kami membuat mereka tidak yakin akan kemampuan kami mengembalikan pinjaman. Sedih memang, tapi apa mau dikata. Mungkin perjalanan nasib seperti itu yang sudah digariskan untuk saya lalui. “Pernah ada keinginan untuk meminjam di bank desa, tapi niat itu saya urungkan karena saya dan bapak belum memiliki Kartu Tanda Penduduk desa ini. Kalaupun ada KTP, tetap saja saya ragu. Orang saja tidak ada yang mau percaya, apalagi bank desa. “Seiring berjalannya waktu, saya dipertemukan dengan seseorang, dia adalah nasabah BUMDes LKM. Dia mau membantu saya dengan syarat harus bayar tepat waktu padanya dan dengan bunga pinjaman yang ditentukannya sendiri. Saya benar-benar merasa sangat bersyukur mendapatkan kepercayaan. Rasanya pintu rahmat telah terbuka bagi kami sekeluarga. Saya pun langsung setuju. “Saya dapat pinjaman sebesar Rp 2 juta. Saya manfaatkan untuk membeli sarana tangkap ikan sederhana. Bapak melaut dan hasil tangkapan saya jual sendiri ke pasar. Hitung-hitung selisih harga cukup besar kalau hanya menjualnya ke pelele yang ada di desa. Dan dengan menjualnya sendiri ke pasar sekaligus mengajarkan saya bagaimana merasakan berusaha maksimal membantu suami. Kami sisihkan dari setiap rupiah rejeki yang kami peroleh untuk membayar setoran, juga menabung untuk sekolah anak anak. Pinjaman pun lunas pada waktu yang ditentukan. “Pinjaman berikutnya kami gunakan untuk menambah sarana nelayan. Kepercayaan orang terus kami pelihara dan jaga dengan baik. Kami tak pernah terlambat membayar angsuran. Bahkan tak jarang kami melunasi sebelum jatuh tempo bila mendapat rejeki lebih. Kami juga selalu menabung untuk hari esok. “Rupanya ini menjadi perhatian BUMDes LKM. Menjelang tahun ke tiga, BUMDes LKM menawarkan pada saya untuk melakukan pinjaman secara langsung tanpa melalui perantara lagi. Saya betul-betul bahagia mendapatkan kepercayaan ini. Dengan modal yang lebih besar, usaha kami menjadi lebih besar. Hasil penjualan tangkapan kami saat ini antara Rp. 150 ribu hingga Rp 500 ribu per hari. Dengan pengelolaan rejeki yang terarah, dari hari ke hari ekonomi rumah tangga kami alhamdulillah terus membaik. Kami dapat membangun rumah baru, memiliki bego (bahasa lokal untuk sampan bermesin tanpa katir yang berukuran 1,5 m x 9 m ), jala, mesin sampan, listrik rumah tangga sendiri, kami juga memiliki tabungan yang cukup (Rp 9,6 juta) di BUMDes LKM. Anak-anak dapat bersekolah seperti layaknya anak-anak lain. Bahkan anak kami yang sulung dalam waktu dekat ini akan melanjutkan sekolah di akademi pelayaran di Jakarta.” “Semoga hari esok akan terus lebih baik,” harap Ibu Suharni sembari tersenyum penuh semangat. Meski telah berhasil merubah nasib dengan gemi-lang, ia tak tak lupa diri. “Semua ini berkat kemurahan hati orang-orang yang telah membantu keluarga kami. Terima kasih BUMDes LKM Labuhan Jambu. Terima kasih Ya Allah, atas rejeki yang engkau titipkan. Puja dan puji syukur atas karuniamu memenuhi ruang hati kami sekeluarga,” ucapnya penuh hormat.

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn

Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter

MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM