Transform Logo

Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan Rumah

admin      16 Januari 2013      ARTIKEL

Penulis : Mukhtar S. Mukti

Pepatah Cina kuno mengatakan: "Jika ingin bahagia selama hidup, buatlah taman yang indah." Membayangkan taman yang indah tak perlu jauh-jauh ke Taman Mini Indonesia Indah, ke Taman Ismail Marzuki, atau ke taman kota yang dibuat khusus untuk mengobati stres orang-orang kota yang kelelahan bekerja. Begitu juga gambaran tentang taman yang indah tak mesti berisi bunga dan tanaman hias semata. Membayangkan taman yang indah cukup sampai batas pekarangan rumah sendiri yang diisi berbagai tanaman dan ternak yang bisa dikonsumsi.

Model pemanfaatan pekarangan rumah bisa menggambarkan pola pikir dan gaya hidup pemiliknya. Warga pedesaan pada umumnya menjadikan pekarangan sebagai ruang sosial atau public area, menanaminya dengan beberapa tanaman untuk kebutuhan pangan sehari-hari, dan menanam pohon sekadar untuk melerai terik matahari di siang hari. Berbeda dengan warga perkotaan yang cenderung memanfaatkan pekarangan dengan mengedepankan nilai estetika dan kenyamanan dengan menanam tanaman hias, dan bagi mereka pekarangan bersifat privat.

Sebenarnya, berbagai fungsi pekarangan bisa bergandengan. Dengan tidak mengesampingkan nilai estetika dan kenyamanan, sebidang pekarangan bisa menjadi sumber pangan, tempat bermain yang nyaman, bahkan mendukung kesehatan sekaligus. Dan untuk mengoptimalkan manfaat pekarangan tersebut dibutuhkan kreativitas.

Pekarangan sebagai alternatif sumber pangan

Pemanfaatan pekarangan sebagai alternatif sumber pangan bagi keluarga bisa dilakukan dengan mengkombinasikan tanaman umbi-umbian, buah-buahan, sayuran, ternak, dan ikan untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Jenis komoditas tentunya disesuaikan dengan luas pekarangan yang dimiliki. Khusus untuk sayuran, tanaman ini tidak membutuhkan areal yang luas, karena umumnya tidak bermahkota besar. Ilustrasi sederhana; sebuah keluarga yang terdiri dari lima orang anggota keluarga, untuk memenuhi kebutuhan di dapur cukup menanam cabai dan tomat masing-masing dua batang saja. Begitu juga untuk jenis sayuran seperti kacang panjang, paria, terung, mentimun, dan jenis sayuran semusim lainnya. Untuk menjaga ketersediaan sepanjang tahun, perlu diatur waktu tanam yang disesuaikan dengan umur masing-masing tanaman. Ketika masa produktif tanaman yang satu berakhir, sudah muncul tanaman baru yang siap panen. Begitu seterusnya sehingga tersedia secara berkesinambungan.

Tak jauh berbeda dengan tanaman sayuran, pemenuhan gizi dari ternak dan ikan pun pada prinsipnya sama. Ayam bisa dipelihara dengan membuat kandang box bersusun dengan ukuran 1 m x 0,8 m x 1,5 m. Kandang mini tersebut dapat menampung 10-20 ekor bibit ayam super. Jenis ayam ini dapat dipanen mulai umur 40 hari sejak tetas, dan bisa dipanen secara berangsur hingga beberapa bulan kemudian. Tak hanya daging dan telurnya yang bisa dinikmati, tapi kotoran ayam pun sangat baik digunakan untuk memupuk tanaman sayuran. Selanjutnya, jika tidak kesulitan air, ikan air tawar pun bisa dipelihara di pekarangan. Dalam kolam berukuran 1 m x 1 m bisa menampung 20-30 ekor ikan nila dewasa siap panen. Pemilik pekarangan dapat membeli ikan yang sehat dan dalam ukuran sedang beberapa kilogram, kemudian dipelihara di kolam penampungan. Sama dengan isi pekarangan lainnya, ikan ini pun bisa dikembangbiakkan dan dipanen secara berangsur. Demikian juga untuk tanaman umbi-umbian dan buah-buahan. Tanaman buah-buahan yang bersifat tahunan, selain dapat diambil manfaat buahnya juga bisa berfungsi sebagai pelindung untuk menciptakan iklim mikro yang sejuk dan nyaman.

Dengan demikian, bagi yang mau berbuat dengan sebidang pekarangannya tidak akan menggantungkan diri pada produk-produk impor yang belum tentu sesuai kaidah kesehatan.

Pekarangan dan Kesehatan Keluarga

Lebih jauh dari segi kesehatan, pekarangan bisa berfungsi sebagai apotik hidup. Tanaman obat-obatan seperti kunyit, lengkuas, jahe, temu lawak, sirih, seledri, mahkota dewa, gingsen, dan lainnya, bisa ditanam di pekarangan tanpa membutuhkan areal yang luas, dan pemeliharaannya pun sangat mudah. Jenis-jenis tanaman tersebut selain bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari, juga dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat jamu yang sangat bermanfaat bagi kesehatan. Bukankah jalinan efek dari hasil pekarangan tersebut bisa menekan biaya kesehatan?

Berbeda dengan budidaya untuk tujuan komersil, budidaya di pekarangan cenderung bersifat organik, terbebas dari residu bahan kimia yang membahayakan kesehatan. Sehingga mengkonsumsi hasil pekarangan jauh lebih aman ketimbang membeli di pasar. Selain itu, hasil pekarangan selalu dikonsumsi dalam keadaan segar karena begitu dipetik langsung diolah. Dua hal tersebut sangat mendukung gaya hidup keluarga yang sehat.

Pekarangan sebagai pemenuhan kebutuhan rohani

Tak hanya hasil material untuk kebutuhan jasmaniah yang bisa diraup dari sebidang pekarangan, tapi juga kenyamanan dan kepuasan rohaniah dari pekarangan yang indah. Penataan yang memperhitungkan jenis tanaman, sifat tumbuh, ketinggian tanaman, kemudian penempatan kandang ayam dan kolam ikan yang tepat, tentunya akan menjadi pemandangan tak kalah indahnya dibandingkan taman bunga yang mahal.

Tentu ada kepuasan tersendiri ketika memandang cabai, tomat, terung, paria, mentimun, kacang panjang, dan lain sebagainya sudah berbuah, daun bayam serta sawi, ditambah lagi buah pisang di sudut pekarangan mulai matang. Belum lagi suara ayam di kandang dan gerak-gerik ikan di kolam, menambah pesona pekarangan sebagai tempat yang menyenangkan untuk bermain. Sebab, tempat yang indah dan rapi akan membawa ketenangan dan kedamaian di hati. Terkadang memandangnya saja jauh lebih enak dari rasa (taste) saat mengkonsumsinya.

Badan sehat, jiwa tenang, hidup bahagia. Kalau boleh saya tambahkan pepatah cina kuno di atas: "Jika ingin bahagia selama hidup, buatlah taman yang indah di pekarangan."

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn

Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter

MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM