Transform Logo

POTRET RUMAH TANGGA PETANI PINGGIR HUTAN LINDUNG

admin      17 Februari 2015      ARTIKEL

Penulis : Bambang Irawanto

Sinar Mentari baru saja mulai menampakkan dirinya di ufuk Timur, di balik dedaunan dan pepohonan hutan, tampak di kejahuan seorang laki-laki paruh baya sedang berjalan sambil memikul bambu sepanjang satu meter dipundaknya untuk tempat Air Nira. Aq. Irin namanya, seorang bapak dengan 4 orang anak dan satu cucu dan satu istri. Anak pertamanya Kani berumur 23 seorang janda, sudah mempunyai anak satu bernama Hafazan baru berumur 2 tahun, tinggal dalam rumah tangga ini juga. Anak ke dua Izam, sudah berumur 20 tahun, anak ketiga ud dan anak ke empat Hir.termasuk rumah tangga dengan jumlah keluarga yang banyak karena jumlah anak yang lebih dari dua.

Sumber pendapatan rumah tangga Aq.Irin selain dari mengambil Air Nira untuk dijadikan gula aren, juga mengambil sayuran dari hutan seperti Pakis dan Rebung. Pakis hampir tiap hari bisa diambil dihutan, tumbuh liar dan relatif banyak bisa dijual sampai Rp 50.000,- dalam satu hari. Untuk rebung biasanya dipanen pada saat musim penghujan di bulan-bulan Januari Februari sepeerti sekarang ini. Selain itu Aq. Irin juga pandai untuk menambah penghasilan rumah tangga dengan memanen daun sirih dan menjualnya kepasar juga memanen bambudan menjualnya, masih banyak lagi kegiatan yang lainnya memanen kopi, baik di lahan Hkmnya* ataupun juga membeli dari teman-teman sesama petani dengan sistem borong, jual buah pisang , jual buah Durian.

Penghasilan tambahan yang lain yang bisa dinikmati dalam jangka yang agak panjang adalah Ngadas** Sapi, Aq. Irin memelihara sapi sebanyak 3 ekor. Pembagian tugas untuk merawat sapi diberikan kepada anak laki-lakinya, Izam, Ud dan Hir.sedangkan anak perempuannya Kani membantu ibunya untuk membuat atau memasak gula aren dan membantu kegiatan domestik (memasak, memcuci, membersihkan rumah). Kegiatan istri dari Aq.Irin selain yang disebutkan diatas, dia juga sangat rajin membersihkan semak-semak lahan Hkm teman petani yang lain dengan sistem upah, per hektarnya Rp 500.000 (lima ratus ribu rupiah) lumayan untuk penambahan penghasilan keluarga.

Hidup dipinggiran hutan bukanlah hidup yang mudah karena sumber penghasilan rumah tangga tidak dari sawah, tapi dari hasil hutan, tapi bukan hasil hutan seperti kayu Mahoni, Sengon atau kayu yang lainnya. Sumber pendapatan /Penghasilan Aq. Irin bisa di lis sebagai berikut ; Air Nira jadi Gula Aren, Hasil panen Kopi di lahan sendiri maupun membeli dari teman petani, jual Pakis, Rebung , daun Sirih, jual Bambu, jual buah pisang jual buah Durian, Berburuh membersihkan lahan, mencari rumput untuk sapi adasnya, yang tidak kalah pentingnya adalah beternak ayam , disamping untuk dijual juga untuk penambahan gizi keluarga. Inilah salah satu Potrait rumah tangga petani pinggir hutan Hkm (Hutan Kemasyarakatan) Desa Aik Bual Kecamatan Kopang Kabupaten Lombok Tengah.

*Hkm (Hutan Kemasyarakatan) hak kelola lahan hutan bagi masyarakat, untuk Memanfaatkan hasil hutan bukan kayu. **Ngadas (memelihara sapi milik orang lain dengan sistim bagi hasil).

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn

Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter

MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM