Transform Logo


KOMUNITAS PEREMPUAN PENGGERAK EKONOMI MASYARAKAT DESA

jumaidi      18 September 2018      ARTIKEL

Jumaidi Idi
Fasilitator Lembaga Transform

Seiring dengan berkembangnya wacana penguatan masyarakat sipil, kini perempuan sudah banyak melakukan gerakan perubahan sosial dan ekonomi, kemudian berani menyuarakan aspirasi dan tuntutannya kepada pengambil kebijakan, bahkan pada lapisan paling bawah pun (Desa) gerakan-gerakan seperti itu kini semakin menguat dan menjadi lokomotif perubahan  bagi masayarakat Desa.

CLG dan Pengembangan Kewirausahaan

Beberapa desa di Lombok Timur terdapat kelompok-kelompok atau komunitas perempuan yang memberikan kontribusi perubahan terhadap masyarakat desa, yang di sebut dengan Comunity Learning Group (CLG). Komunitas ini memulai perubahan dengan pendekatan kewirausahaan. Sejak tahun 2016 komunitas ini membangun kesadaran para perempuan yang mayoritas sebagai buruh tani dan petani tembakau untuk bisa membangkitkan ekonomi melalui aktivitas berwirausaha, mengadakan pembelajaran bersama, mendatangkan pelatih, dan saling bertukar pengetahuan tentang apa yang bisa menghasilkan keuntungan lebih.

Hal utama yang didorong dalam komunitas ini adalah mengolah hasil tanam menjadi lebih bernilai ekonomi, seperti ubi, jagung, labu, nanas dan hasil panen lainnya, bisa diolah menjadi ice cream, sari buah, selai buah dan juga menjadi produk-produk lainnya. Hal itu tidak serta merta mereka langsung bisa, melainkan harus berlatih berulang kali, sehingga tak jarang pula mereka mendapatkan pujian dari para konsumen karena hasil dari produk mereka mampu membuat konsumen terkesima. Mereka juga membuat olahan makanan dan minuman herbal seperti minuman kunyit asam dan moringa, bahkan kedua produk ini sudah diberikan serifikat produksi berupa Pangan Industri Rumah Tangga (P-IRT) oleh Dinas Kesehatan.

Keunggulan dari komunitas ini adalah mampu mendorong produk khas lokal menjadi produk unggulan di setiap desa. Disadari oleh banyaknya produk lokal tenggelam di pasaran karena rantai generasi yang putus, maka komunitas ini mengangkat kembali produk lokal untuk dipasarkan, seperti songgak, sambel totok, kain tenun dan produk lainnya. Tak jarang mereka mempromosikan produk-produk itu ke luar daerah, baik melalui tamu yang datang ke lombok maupun melalui pasar online.

Komunitas CLG ini juga membekali para anggota komunitas maupun masyarakat dengan ilmu-ilmu kewirausahaan, mulai dari pemahaman tentang permodalan, pemasaran, serta analisis keuntungan. Meskipun banyak berbicara tentang teori dan hal itu merupakan sesuatu yang baru bagi para perempuan buruh tani dan petani, namun mereka tidak surut untuk belajar. Perempuan-perempuan ini membuktikan perubahan itu tidak datang serta merta namun harus digali dan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Hasilnya mereka mampu bersaing dengan pengusaha-pengusaha lainnya, karena produk-produk mereka sudah dipasarkan ke kios-kios kecil, dan sedang berupaya untuk bisa memasukkan produk mereka di toko-toko besar.

Praktik usaha yang dijalankan oleh komunitas ini, yaitu ada usaha bersama melalui komunitas CLG dan ada juga usaha individu yang dijalankan oleh anggota komunitas sendiri. Usaha bersama ini berupa kios grosir ditingkat desa yang memberikan pelayanan kepada anggota komunitas maupun masyarakat secara umum yang memiliki orientasi untuk berbisnis. Kios ini mampu mendorong para pelaku usaha tingkat lokal serta memberikan keuntungan lebih, karena mengambil barang di grosir yang disediakan komunitas ini biaya operasional yang dikeluarkan lebih sedikit, harga juga lebih murah dibanding harus ke pasar.

Sedangkan usaha individu, beragam jenis usaha yang dijalankan karena tergantung dari anggota komunitas, ada yang berjualan di sekolah-sekolah, ada yang menyediakan catering, ada yang berjualan di kios-kios, dan ada pula yang berjualan online. Untuk mempromosikan produk-produknya, komunitas ini sering mengikuti pameran-pameran yang diadakan oleh pemerintah maupun perusahaan-perusaan.

Kehadiran komunitas yang didukung melalui dana CSR Sampoerna bekerja sama dengan Lembaga Transform ini,  dirasa mampu membangkitkan jiwa usaha masyarakat, yang dulunya hanya melakoni tugas sebagai buruh tani maupun petani tembakau, namun saat ini sudah bisa menjadi pengusaha, seperti yang diakui oleh Muhaini alias Inaq Unan, dulu hanya mengandalkan hasil bertani untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga maupun membiayai anaknya sekolah, namun setelah berjualan Inaq Unan tidak merasa kesulitan lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Perempuan dan Perubahan

Menelisik kembali sejarah gerakan perempuan selama orde baru yang sangat terkooptasi oleh politik gender, dan dikotakkan pada peran keibuan seorang perempuan. Namun setelah orde baru tumbang dan seiring dengan berjalannya waktu, gerakan perempuan terus tumbuh sampai di akar rumput. Di desa-desa banyak kita temukan aktor perempuan yang sudah mulai menarasikan identitas dirinya sebagai manusia berjenis kelamin perempuan, yang memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Perubahan yang dilakukan bukan hanya dari satu sisi, tapi sendi-sendi sosial lainnya seperti ekonomi, sosial kemasyarakatan, dan arah kebijakan pemerintah desa.

Komunitas perempuan (CLG) sebagai komunitas belajar, tak hanya mendorong anggota komunitas maupun masyarakat bergerak dibidang kewirausahaan, namun berhasil pula mencetak aktor-aktor perempuan sebagai penggerak sosial kemasyarakatan, memperjuangkan hak-hak perempuan dalam setiap musyarah Desa. Ikut terlibat dalam proses penyusunan perencanaan penganggaran desa adalah peran penting dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, karena dalam perencanaan penganggaran merupakan penentu arah kebijakan kedepannya. Sasya Reginan merupakan aktor perempuan yang aktif dalam mendorong anggaran yang partisifatif gender, misalnya pada anggaran Desa Batu Putik, berhasil diperjuangkan sebagian dari anggaran itu untuk pemberedayaan perempuan, yaitu untuk pelatihan maupun kegiatan pengembangan ekonomi. Sasya Reginan juga mampu mendorong perempuan-perempuan lain Desa Batu putik untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial, dan banyak berkontribusi dalam setiap kegiatan ditingkat kecamatan.

Anggaran partisifatif gender tentu mempengaruhi arah kemajuan masyarakat desa, tidak hanya kita melihat para perempuan menjadi ibu rumah tangga ataupun menjadi buruh di sawah dan ladang, tapi juga mendorong perempuan menjadi lebih aktif dan inovatif melalui pelatihan-pelatihan dan aktifitas yang lebih edukatif.

Aktor lain seperti Anna Annisa di Desa Senyiur, dinilai mampu melakukan perubahan melalui majlis ta’lim, para perempuan dulunya di Desa tersebut jarang melakukan pertemuan-pertemuan apalagi melakukan diskusi. Namun semenjak lahirnya majlis ta’lim untuk para muslimah desa senyiur, kegiatan para perempuan Desa Senyiur terlihat lebih hidup, rutin mengadakan yasinan bersama. Disela-sela kegiatan yasinan itu, mereka berdiskusi untuk membicarakan seputar perkembangan desa, dari situlah lahir ide-ide untuk memajukan desa. Aktor-aktor lain juga bergerak di Desa masing-masing.

Gerakan seperti ini mampu mempengaruhi pemikiran masyarakat melalui internalisasi nilai-nilai dengan melakukan pertemuan-pertemuan  majlis keagaamaan, maupun pertemuan-pertemuan sederhana dengan komunitas, sehingga tergerak bersama dalam membangun tata kehidupan yang adil buat perempuan.

Menurut de Beaucoir dalam perjalanan sejarah panjang umat manusia, perempuan dicitrakan sebagai sosok yang lain, menjadi the second sex. Dan kekuasaan laki-laki terhadap perempuan ini telah diterima sebagai ideology yang hegemonis. Oleh karena itu pendidikan, kultur dan kesadaran perempuan sebagai bagian dari masyarakat sipil menjadi sangat panting dalam memperjuangkan identitas dan hak-hak azasi mereka. Dengan memperbanyak ruang-ruang diskusi dan kegiatan keagamaan seperti yang dilakukan oleh Anna Annisa sangat penting untuk menguatkan kultur, menemukan identitas, sehingga tergerak kesadaran mereka untuk memperjuangkan hak azazi perempuan

Potensi Perempuan Sebagai Penggerak Ekonomi Desa

Komunitas CLG terus memberikan kontribusi terhadap kemajuan ekonomi masyarakat Desa, unit-unit usaha mandiri terus didorong untuk meningkatkan nilai pendapatan masyarakat, usaha yang dikembangkan berupa usaha dagang dan produksi. Dalam usaha dagang, komunitas CLG memberikan layanan sebagai sentral usaha atau grosiran, sehingga jadi lebih banyak perempuan di Desa tergerak untuk membangun unit usaha karena diberikan kemudahan oleh komunitas CLG. Begitu juga pada usaha produksi, masyarakat dimudahkan dalam mencari bahan baku untuk pembuatan segala jenis produk karena di komunitas CLG sudah disediakan bahan bakunya.

Berkembangnya usaha produksi tentu akan memberikan peluang lebih besar lagi bagi perempuan-perempuan di Desa, karena satu unit usaha produksi akan membutuhkan tenaga lebih dari satu, maka perempuan lainnya akan dijadikan sebagai tenaga kerja. Hal ini akan menambah ladang kerja dan mengurangi pengangguran bagi perempuan-perempuan di Desa. Tak hanya itu, unit usaha desa seperti BUMDes pun ikut tergerak dengan adanya dorongan dari aktor perempuan yang berkecimpung di komunitas CLG ini, bahkan membangun kerja sama dengan lembaga ekonomi desa ini pun dapat terjalin dengan baik. Di Desa Senyiur misalnya, BUMDes memberikan pinjaman sebagai tambahan modal bagi CLG, sehingga dengan bertambahnya modal, maka akan lebih banyak lagi perempuan yang bisa terlibat sebagai penggerak ekonomi.  

Melihat semangat yang terus ditanamkan oleh aktor perempuan di Desa ini, maka pendapatan masyarakat akan terus bertambah, dan kesejahteraan bagi masyarakat desa dapat terwujud. CLG pada kenyataanya bukanlah sekedar wadah ekonomi komunitas perempuan di desa, tetapi lebih dari itu telah berperan multi tingkat pada tataran sosial, ekonomi dan bahkan kelembagaan. Pada tataran ekonomi telah menciptakan efek ganda (multiplier effect), bergerak untuk menciptakan kesempatan bekerja, rantai nilai produk dan ujungnya penghasilan masyarakat. Pada tataran sosial dan kelembagaan,   telah mampu mendinamisir hubungan-hubungan individu dan kelompok masyarakat, serta berdampak pada tumbuhnya kesadaran perempuan tentang pentingnya memainkan peran dalam pembangunan di desa.

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn

Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter

MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM