Transform Logo

Memahami Persepsi Dan Tindakan Masyarakat Dalam Pengelolaan Sumberdaya Hutan

admin      10 September 2011      ARTIKEL

Penulis : Mukhtar

Pengelolan sumberdaya alam yang baik adalah menjadi keharusan dalam upaya kita tetap menjaga harmonisasi keseimbangan hubungan manusia dengan alam. Karena jika alam terjaga dengan baik, manusia akan menerima dampak keseimbangan lain yang lebih besar, termasuk dalam keseimbangan hubungan dinamika sosial. Namun Fakta yang terjadi, seiring dengan meningkatnya nilai ekonomi hasil hutan, kecenderungan yang ada saat ini, hutan hanya dinilai sebagai nilai manfaat praktisnya, yang bobotnya cenderung ke arah penyangga perekonomian. Proses Pembentukan Persepsi Teori ekologi manusia menyebutkan \"manusia dan lingkungan saling mempengaruhi\". Interaksi manusia dengan lingkungan, dapat mempengaruhi pandangan hidup manusia. Dengan mengamati lingkungan hidupnya, kemudian belajar dari pengalaman, akan melahirkan citra tentang lingkungan, yaitu gambaran tentang sifat lingkungan, pengaruhnya terhadap dirinya dan reaksi terhadap aktivitas hidupnya Dalam proses pembentukan citra lingkungan hidup terlebih dahulu terjadi proses pembentukan persepsi, yakni proses dimana seseorang menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus dengan lingkungan berupa pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi serta memberinya makna pada suatu situasi tertentu. Selain itu manusia merupakan aktor yang sadar dan refleksif, yang menyatukan obyek-obyek yang diketahuinya melalui proses Self-Indication, yakni proses dimana seseorang mengetahui sesuatu, menilainya, memberinya makna dan memutuskan untuk bertindak berdasarkan makna tersebut. Dengan demikian, persepsi dan proses Self-Indication, dapat mendorong seseorang untuk bersikap atau bertindak dalam berinteraksi dengan lingkungan hidupnya. Persepsi Masyarakat tentang Hutan Masyarakat terutama yang tinggal disekitar hutan memiliki sudut pandang sendiri tentang hutan. Persepsi masyarakat tentang fungsi hutan sudah mampu menjelaskan fungsi ekologis maupun fungsi ekonomi. Hutan dari fungsi ekologis dapat mencegah banjir, mencegah terjadinya erosi tanah, menjaga ketersediaan air tanah, menjaga kestabilan debit mata air dan menyerap karbon. Sedangkan fungsi ekonomi, hutan tempat mengambil buah dan hasil hutan bukan kayu. Pemaknaan hutan oleh masyarakat ditunjukan melalui simbol-simbol seperti kayu yang besar, semak-semak, ketersediaan air dan iklim. Sedangkan fungsi hutan dimaknai berdasarkan rasa, pengalaman dan hubungan interaksi sosial yang pada akhirnya melahirkan persepsi bahwa keberadaan hutan cukup penting baik bagi manusia saat ini dan akan datang maupun bagi semua mahluk hidup, sehingga harus dijaga kelestariannya. Persepsi tersebut telah melahirkan hubungan masyarakat dengan hutan bersifat fungsional dan menjadi satu kesatuan sosio-biofisik, dalam istilah Soemarwoto sebagai bentuk cara pandang imanen atau holistik. Ketika simbol-simbol tersebut berubah atau rusak maka simbol tersebut tidak dapat memberikan fungsi sebagaimana pemahaman sebelumnya. Dengan demikian maka muncul pemahaman untuk menjaga simbol-simbol dengan ungkapan keberadaan hutan harus dijaga kelestariannya. Namun demikian, tidak semua pengetahuan yang baik dapat melahirkan tindakan yang baik. Ketika seseorang harus mengambil keputusan antara pemenuhan kebutuhan ekonomi jangka pendek ataukah mempertahankan simbol-simbol yang dipahami. Pada situasi tersebut terjadi kontradiksi antara pemahaman dengan sikap yang harus diambil dan kebanyakan lebih memilih pemenuhan kebutuhan jangka pendek. Persepsi Masyarakat terhadap Program Hkm Berdasarkan tujuan program HKm (Pasal 4), menyebutkan \"hutan kemasyarakatan bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat melalui pemanfaatan sumber daya hutan secara optimal, adil dan berkelanjutan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi hutan dan lingkungan hidup\". Tujuan tersebut mencerminkan pengelolaan HKm oleh masyarakat tidak sebatas untuk peningkatan ekonomi tetapi tetap memperhatikan aspek konservasi secara berkelanjutan. Pengintegrasian fungsi ekonomi dan fungsi konservasi dapat diwujudkan melalui komposisi tanam yakni 70 % MPTS dan 30 % tanaman kayu. Di beberapa lokasi dilaksanakannya program HKm, masyarakat senantiasa mempertimbangan praktek pola tanam dengan berupaya untuk mendapatkan keuntungan (profitability). Hal itu dilihat dari pertama, pada lahan yang sama, kombinasi tanaman menghasilkan lebih dari satu macam produk / komoditi; kedua, petani mampu mengatur kesenjangan waktu (time lag) untuk memperoleh output yang terukur (tangible) melalui pengaturan pola tanaman untuk mendukung kebutuhan harian, kebutuhan bulanan, dan kebutuhan dalam jangka satu tahun dan ketiga, petani senantiasa mengevaluasi pola tanam yang dilakukan dan belajar dari orang lain untuk mendapatkan keuntungan. Namun demikian, pada beberapa kasus terkadang pola tanam dilahan HKm yang mestinya mempertahankan ciri-ciri fisik kawasan hutan lindung, seringkali dikesampingkan. Jika kita masuk ke dalam kawasan hutan terkadang sulit menemukan komposisi tanam 70 % MPTS dan 30 % tanaman kayu untuk mengintegrasikan fungsi konservasi dan fungsi ekonomi. Hasil penelitian Harsono (2009) menyebutkan, warga masyarakat yang menganggap hutan untuk memenuhi sumber kehidupan manusia, maka akan berperilaku eksploitatif terhadap hutan dan hanya memanfaatkan hutan untuk diambil hasilnya. Secara umum, masyarakat mempersepsikan program HKm menjadi: 1) sumber pemenuhan kebutuhan dasar dalam jangka pendek maupun pemenuhan jangka panjang; 2) pengelolaan lahan HKm dapat diwariskan. Pemahaman tersebut tumbuh karena masyarakat telah mengetahui izin pengelolaan HKm sampai 35 tahun dan dapat diperpanjang, dan 3) tuntutan kepada pemerintah untuk mendapatkan hak sebagai warga negara untuk mendapatkan kesejahteraan melalui hak pengelolaan sumberdaya alam di sekitarnya. Hal itu didasari karena mereka sudah secara turun temurun tinggal di sekitar kawasan hutan tanpa mempermasalahkan status kawasan. Keragaman persepsi masyarakat tentang program HKm dipengaruhi oleh faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berupa hasil interaksi dengan orang lain berupa komunikasi langsung dan terlibat dalam pertemuan dan pelatihan dan faktor internal berupa citra yang terbangun dari proses menilai dan menimbang setelah berinteraksi dalam pengelolaan program HKm. Namun demikian, persepsi yang baik tidak menjamin kearifan dalam pengelolaan HKm. Perubahan ciri-ciri fisik hutan dan penurunan kualitas ekologis, menyebabkan masyarakat secara tidak langsung menjadi terbiasa dan menyesuaikan diri dengan penurunan kualitas lingkungan. Selain itu seringkali masyarakat tidak selalu bertindak rasional sesuai dengan citra lingkungan yang dimiliki, terutama jika harus memenuhi kebutuhan jangka pendek. Akibatnya, meskipun peraturan yang ada sudah cukup banyak mengatur tentang pengelolaan sumberdaya hutan, namun faktanya hutan tetap saja rusak. Hubungan Persepsi dan Tindakan Memahami hubungan persepsi dengan tindakan, adalah upaya memahami perilaku masyarakat dalam mengaktualisasikan pikiran dan pengetahuannya terhadap tindakan nyata sehari-hari dalam konteks pengelolaan hutan, dan implikasinya terhadap kondisi hutan yang memenuhi kaidah keseimbangan konservasi dan ekonomi. Secara umum ada 4 hubungan dan implikasinya terhadap dua hal tersebut yaitu: (1) Masyarakat memiliki persepsi yang baik dan tindakannya arif maka hasilnya akan baik; (2) Masyarakat yang memiliki persepsi baik dan tindakannya tidak arif maka hasilnya akan buruk; (3) Masyarakat yang memiliki persepsi tidak baik dan tindakannya arif maka hasilnya akan baik dan (4) Masyarakat yang memiliki persepsi tidak baik dan tindakannya tidak arif maka hasilnya akan buruk.

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn

Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter

MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM