Transform Logo

GREEN SCHOOL
Gerakan Membangun Generasi Peduli Lingkungan

admin      04 November 2011      ARTIKEL

Penulis : Mukhtar

Alam diciptakan Tuhan salah satunya sebagai tempat untuk belajar. Tetapi saat ini justeru terbalik, alam memberikan pelajaran sekaligus memaksa kita untuk belajar menghargai dan menjaga keseimbangannya. Umat muslim mengenal sebutan “Sunatullah” untuk melukiskan keseimbangan sebagai hukum alam. “Sunnatullah” merupakan semacam kemampuan alam memperbaiki dirinya terus menerus untuk mencapai keseimbangan yang dinamis. Sunatullah menuntut adanya keseimbangan antara alam dengan manusia. Alam yang dikelola secara tak bertanggung jawab, keseimbangannya akan terganggu. Bahkan lebih jauh mendorong terjadi kerusakan dan penghancuran tata kehidupan di planet bumi. Fakta terjadinya perubahan iklim yang mencemaskan umat manusia saat ini, merupakan pertanda terganggunya keseimbangan alam. Manusia adalah aktor utama dibalik terjadinya perubahan iklim. Fenomena perubahan iklim memang mengerikan. Menjadi ancaman global yang mengundang keprihatinan bersama di belahan bumi mana saja. Fenomena perubahan iklim menjadi momentum pembelajaran dan intospeksi massif di tingkat global terkait intervensi manusia terhadap alam selama ini. Muncul dimana-mana gerakan menyelamatkan bumi dari kerusakan yang lebih parah. Menjaga keseimbangan alam menjadi kesadaran yang meluas dan menjadi gerakan bersama. Pintu Pendidikan Perubahan iklim yang menjadi isu global terpenting dalam 10 tahun terakhir, mendapat respon luas sejumlah kalangan. Baik lembaga internasional, negara bangsa, NGO hingga komunitas-komonitas lokal di penjuru dunia. Semuanya memandang isu perubahan iklim sebagi isu bersama yang memerlukan jawaban yang sistematis dan berkelanjutan. Pintu pendidikan diyakini sebagai salah satu alternatif jawaban yang penting dan tepat untuk menjawab isu perubahan iklim dalam jangka panjang. Institusi pendidikan menempati posisi strategis sebagai lokomotif gerakan penyelamatan lingkungan. Pendidikan, dari tingkatannya yang paling dasar hingga terus ke level yang tertinggi haruslah melahirkan kaum terdidik yang memiliki wawasan, orientasi dan kepekaan terhadap lingkungan yang mendalam dan menyeluruh. Kita mengenal misalnya Pogram Green School atau “Sekolah Hijau”. Sebuah program yang mencoba mendorong tumbuhnya kesadaran lingkungan dari ruang-ruang pendidikan. Prinsip dasar green school yakni mendorong manajemen sekolah yang berwawasan lingkungan. Sekolah sepatutnya memiliki komitmen dan secara sistematis mengembangkan program-program pendidikan lingkungan ke dalam seluruh aktivitas sekolah. Dengan demikian lingkungan sekolah menjadi wahana pembelajaran dan pembiasaan bagi seluruh warga sekolah untuk bersikap arif dan berperilaku ramah lingkungan melalui model pembelajaran yang aplikatif dan menyentuh kehidupan sehari-hari. Arah misi pendidikan lingkungan yakni mendorong rasa kepedulian, memberikan prespektif baru, nilai, pengetahuan, keterampilan dan proses yang dapat mengakibatkan perubahan sikap dan kebiasaan warga sekolah yang mendukung pelestarian lingkungan hidup. Untuk mencapai misinya, pendidikan lingkungan harus terintegrasi dengan progam-program yang diikuti siswa seperti kegiatan di kelas, kegiatan intrakurikuler dan kegiatan ekstrakurikuler termasuk melibatkan komite sekolah dalam mengajak orang tua siswa membangun kepedulian lingkungan. Outputnya terjadi perubahan perilaku dan pola interaksi siswa untuk menghargai, mencintai dan memelihara lingkungan hidup yang menjadi kebiasaan sehari-hari. Oleh karena itu dibutuhkan peran aktif dan kebersamaan perspektif dari semua warga sekolah untuk merealisasikan program green school sebagai tanggungjawab bersama. Di NTB Permasalahan dalam mendorong program green school di NTB antara lain pertama, secara konseptual, pemahaman tentang program ini belum sama dan sebagian besar masih menyamakan dengan garden school. Hal itu disebabkan program green school relatif baru meskipun informasinya sudah cukup lama didengar. kedua, program green school masih belum menjadi prioritas dan masih menjadi program pilihan bahkan pelengkap saja. Secara konseptual beberapa langkah yang dapat mendukung implementasi program pendidikan lingkungan sebagai berikut: a. Pendidikan lingkungan terintegrasi pada kegiatan intrakurikuler Kegiatan intrakurikuler adalah kegiatan belajar siswa di kelas yang mengacu kepada kurikulum. Saat ini beberapa mata pelajaran seperti science, biologi, IPS sudah terintegrasi kedalam kurikulum. Untuk optimalisasi materi tersebut maka implementasi prinsip PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) atau PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Efektif dan Menyenangkan). sangat relevan. Secara teknis juga perlu dukungan alat peraga yang sesuai dengan konteks pelajaran, perbanyak praktek dan perlunya metode dan kreatifitas guru seperti pertemuan di luar kelas dan simulasi. b. Pendidikan lingkungan sebagai kegiatan ekstrakurikuler Pendidikan lingkungan hidup dapat juga dikemas dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti kegiatan Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Pecinta Alam (PA), UKS dan Pramuka. Kegiatan KIR diarahkan dengan tema-tema lingkungan sehingga secara sistematis siswa akan terdorong untuk melakukan penelitian dan percobaan dengan subjek di sekitar lingkungan sekolah. Unit kegiatan siswa yang tergabung dalam pecinta alam diberikan tanggungjawab untuk menata dan berinteraksi dengan sumberdaya lingkungan. Sedangkan unit kegiatan kepramukaan diarahkan untuk selalu berinteraksi dengan lingkungan seperti out bound. Selain itu kegiatan sekolah hendaknya didorong dan dilatih untuk meningkatkan keterampilan seperti pengolahan sampah organik, menjaga kebersihan dan menjaga suasana kenyamanan lingkungan (amenity). c. Pendidikan lingkungan terintergasi pada program sekolah Program sekolah yang dimaksud yakni kegiatan atau aturan yang dibuat sekolah selain kegiatan intra/ekstrakurikuler. Misalnya penyusunan awig-awig (peraturan) seperti kelas bersih, penghematan air dan listrik, penghijauan di halaman sekolah, tanggungjawab menjaga kebersihan dan pemeliharaan taman sekolah. Awig-awig sekolah dibuat untuk memelihara lingkungan sekolah dan sekaligus sebagai pendidikan praktis bagi anak didik untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Awig-awig sekolah yang konsisten diterapkan,akan melahirkan pembiasaan dan setahap demi setahap menjadi budaya cinta lingkungan. d. Pelatihan guru dan kepala sekolah Pelatihan bagi kepala sekolah dan guru menjadi faktor kunci keberhasilan program green school. Pelatihan bagi kepala sekolah dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas dalam menyusun konsep, kebijakan dan perencanaan pengembangan sekolah yang berorientasi sekolah hijau. Sedangkan pelatihan guru dimaksudkan untuk memperkaya metode, meningkatkan kreatifitas dan spirit agar dalam proses pengajaran dan transfer knowledge lebih tepat, lebih menyenangkan dan lebih disederhanakan sehingga mudah dipahami siswa. Penyediaan modul pendidikan lingkungan menjadi instrumen penting sebagai pegangan guru dalam proses ipmlementasi pendidikan berwawasan lingkungan. e. Pengembangan sistem pendukung berwawasan lingkungan Kegiatan ini dapat berupa penyediaan sarana cuci tangan di masing-masing ruang kelas, dukungan buku perpustakaan, penyediaan bak sampah organik dan nonorganik dan penyediaan ruang ekspresi siswa seperti majalah dinding dan buletin sekolah. Setidaknya lima hal kecil di atas jika dijalankan dengan seriu di tiap sekolah dengan dukungan pemerintah dan masyarakat luas, kita bisa berharap implementasi green school bisa terwujud secara kongkret. Sekali ditegaskan disini, momen perubahan iklim yang menjadi keprihatinan global saat ini, menjadi kesempatan untuk membuktikan kerja-kerja nyata menjaga dan merawat lingkungan yang kian terancam akibat ulah manusia sendiri. Semoga.

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn

Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter

MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM