Mataram – Isu stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menjadi perhatian utama karena jumlahnya masih berada di atas rata-rata nasional yakni sebesar 30,5%...."> Mataram – Isu stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menjadi perhatian utama karena jumlahnya masih berada di atas rata-rata nasional yakni sebesar 30,5%....">
Transform Logo


Menuju SEMETHON 2019

agus      2019-11-25      KLIPING


Mataram – Isu stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menjadi perhatian utama karena jumlahnya masih berada di atas rata-rata nasional yakni sebesar 30,5%. Dalam kurun lima tahun terakhir, jumlah prevalensi stunting mengalami penurunan sebesar 12 %, yakni dari 45,26% di tahun 2013 menjadi 33,49% di tahun 2018. Pada tahun 2019, Provinsi NTB mentargetkan jumlah stunting sebesar 28%. Salah satu faktor penyebabnya yakni masih tingginya angka kemiskinan. Tahun 2018, jumlah Penduduk miskin sebesar 14,63% atau 735.620 jiwa, dan masih di atas nasional. Laporan Unicef 2017 menyebutkan bawa anak anak yang hidup di 20 % keluarga termiskin 1,7 kali lebih besar terpapar stunting dari pada 20 % anak anak terkaya.

Kemiskinan menjadi penghambat kemampuan masyarakat dalam menyediakan asupan makanan bergizi kepada baduta dan balita. Sejumlah kasus malnutrisi yang diterjadi di Kabupaten Lombok Utara ataupun di Kabupaten Lombok Timur yang diekspos di media sosial menunjukkan bahwa malnutrisi lebih banyak dialami oleh keluarga miskin. Disamping itu, pengetahuan tentang pola asuh dan pola makan dalam merawat baduta dan balita yang masih terbatas juga berkontribusi terhadap tingginya prevalensi stunting.

Keberadaan media sosial yang sudah populer sampai pelosok desa di NTB, telah berdampak positif dengan maraknya media sosial sebagai ruang pemasaran sejumlah produk. Kreatifitas dalam menggerakan ekonomi tersebut tidak terlepas dari peran generasi muda sebagai inspirator. Dengan ide kreatifnya, sejumlah generasi muda telah berhasil memanfaatkan dan membangun tekhnologi sebagai instrument yang efektif untuk menggerakkan komunitas yang sebelumnya termarginalkan sebagai inti bisnis. Praktek tersebut telah menginspirasi jiwa kewirausahaan banyak pemuda untuk menjadikannya sebagai gerakan kewirausahaan sosial yang cara kerjanya dinilai menjadi solusi mengatasi kemiskinan ke depan. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan untuk melibatkan generasi muda dalam menurunkan jumlah stunting dan edukasi bagi masyarakat.

Atas dasar pemikiran di atas, Transform bekerjasama dengan SNV Netherlands Development Organization dan Creatif Hub Universitas Gajah Mada berinisiatif meyelenggarakan kegiatan Social Entrepreneur Model Innovathon (SEMETHON). Dalam kegiatan ini kami akan mengajak generasi muda untuk mendorong gerakan social-entrepreneurship sebagai kontribusi dalam penyelesaian permasalahan sosial terutama dalam kaitannya dengan isu ketahanan pangan dan gizi di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kegiatan nantinya akan memberikan tantangan dan pelatihan kepada generasi muda yang memiliki keahlian di bidang programmer untuk berinovasi dalam mendorong kewirausahaan sosial di NTB.

      Tujuan

  1. Memberikan tantangan sekaligus wadah bagi generasi muda di Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk menyampaikan program-program inovasi.

  2. Menjaring pemuda dan pemudi kreatif yang tertarik mengembangkan inovasi serta mempunyai minat bisnis yang berdampak sosial khususnya ketahanan pangan dan gizi di Provinsi Nusa Tenggara Barat melalui platform social-enterpreneurship.

  3. Meningkatkan kapasitas dalam mendorong gerakan pengembangan kewirausahaan sosial di Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Share to:

Twitter Mataram – Isu stunting di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah menjadi perhatian utama karena jumlahnya masih berada di atas rata-rata nasional yakni sebesar 30,5%...." target="_blank" class="btn btn-facebook btn-sm"> Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn

Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter

MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM