Transform Logo


Kembali Ke Pekerjaan Semula; Ketika Merugi Bertani Tembakau

admin      25 Agustus 2012      ARTIKEL

Hariyani

Amaq Mardiana, sudah hampir 16 tahun menjadi petani tembakau, suatu kurun waktu yang cukup lama untuk sebuah pengalaman. Namun warga Desa Semaya itu tetap saja dirundung kegagalan. Dia mengaku, selama menekuni pekerjaan sebagai petani tembakau, tidak pernah mendapatkan keuntungan. Justeru kerugian yang sering dialami, dan paling tinggi kembali modal alias impas. Terakhir, pada 2010, ayah 9 anak itu menyewa lahan untuk menanam tembakau seluas 4 hektar dengan biaya sewa Rp 1 juta per hektar. Dipinjamnya modal Rp 50 juta ke seorang rentenir. Suku bunganya sangat tinggi, 50% dalam satu siklus produksi atau 6 bulan. Namun hampir semua petani tembakau menghadapi hal yang sama soal permodalan: kekurangan atau tidak punya modal, kemudian meminjam ke rentenir. Omzetnya tak seberapa, hanya cukup untuk membayar pinjaman. Itu pun sudah terhitung lumayan, karena lebih sering hasil penjualan tidak cukup untuk membayar pinjaman. Bahkan, ia mengaku, sampai saat ini pinjaman modal dari musim ke musim masih ada yang belum lunas. Harga tembakau sepenuhnnya ditentukan oleh perusahaan, petani sama sekali tidak memiliki posisi tawar untuk menentukan harga. Dan perusahaanlah yang menentukan grade atau kelas daun tembakau yang dijual petani ke perusahaan. Terkadang kualitas daun tembakau memang anjlok karena cuaca kurang mendukung. Tetapi tidak jarang juga Amaq Mardiana merasa daun tembakaunya digrade secara tidak adil. Selain itu, harga minyak tanah selalu melambung tinggi saat musim pengovenan tembakau tiba. Petani tembakau tidak punya pilihan lain. Meski harga tinggi, mereka tetap membeli. Harga tinggi pun diikuti kelangkaan pula. Untuk mendapatkan minyak tanah mereka harus berjuang keras. Keluhan-keluhan tersebut sudah umum kita dengar dari petani tembakau. Namun solusi yang tepat belum juga ditemukan, sehingga kerugian demi kerugian dialami banyak petani. Termasuk diantaranya Amaq Mardiana. Karena kerugian beruntun yang dialaminya, ia terpaksa kembali ke pekerjaan semula yang telah lama ditinggalkan: jual beli katak. Ia membeli katak dari warga di Dusun Semaya Barat seharga Rp 10 ribu per kilogram. Katak tersebut sudah bersih dari kulit dan kotorannya alias siap dimasak. Kemudian dijual ke pelanggan di Mataram seharga Rp 12 ribu per kilogram. Pengusaha di Mataram itu kemudian menjualnya ke Jawa. Usaha jual beli kataknya cukup lancar, selang sehari Amaq Mardiana mengirim stok katak ke Mataram. Sekali mengirim bisa mencapai 50 kilogram. Meski usaha kecil-kecilan, jual-beli katak dirasakan lebih menguntungkan daripada bertani tembakau yang serba tak pasti. Pemasukan memang tidak besar, tapi bisa kontinu. Itulah yang membuat Amaq Mardiana kembali menekuni pekerjaannya yang lama. Petani tembakau tentu tidak semuanya mengalami nasib yang sama. Namun itu sebagai gambaran bahwa seluk-beluk bertani tembakau tidak gampang. Meski pengalaman menggunung, belum tentu menjadi jaminan keberhasilan. Masih ada faktor lain di luar sana yang turut menentukan.

Share to:

Twitter Facebook Google+ Stumbleupon LinkedIn


Profil Lembaga

Pengalaman

Pengunjung

Flag Counter


MEMBAWA PERUBAHAN KEARAH YANG LEBIH BERMAKNA

© LEMBAGA TRANSFORM